https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Manisnya Rasa Nostalgia yang Melintasi Jalan dan Menembus Waktu

Senin, 15 Juni 2026
foto: UNSPLASH/Katherine Sousa

“2026 ini usianya sudah 78 tahun. Senang dengar cerita pembeli yang pernah nangis karena akhirnya ketemu lagi sama sirup waktu dia kecil dulu. Ada juga yang cerita kalau baru tahu ini produk ternyata asli Malang, dikira buatan pabrik besar di Jakarta,”

Daniel Hartono tersenyum kecil siang itu, memulai perbincangan singkat kami yang dimulai tanpa rencana.

Ya, aku awalnya hanya berkunjung untuk mengobati rasa penasaranku atas sirup legendaris ini tapi kemudian bertemu dengan Daniel yang kutahu dia merupakan pengelola generasi keempat dari bisnis turun-temurun itu. Saat mendengar ceritanya soal beberapa pembelinya, mau tak mau aku juga ikut tersenyum seolah bercermin.

Bagi diriku yang merupakan anak asli Kota Malang, ada satu botol minuman yang terbuat dari kaca dan tak akan pernah absen di meja makan setiap kali bulan Ramadan tiba. Minuman sirup yang begitu manis dengan label wajah singa itu mengisi kenangan masa kecilku dan akhirnya membawaku ke hari-hari saat kakek, nenek, dan Ibuku masih hidup.

Aku masih ingat saat suara adzan Maghrib berkumandang, nenek akan membuka botol kaca yang pada labelnya bertuliskan varian rasa cocopandan dan mengalirkannya pada wadah es buah yang dia buat. Jangan tanyakan betapa segar dan manisnya, karena rasa sirup itulah yang sudah kutunggu sejak adzan Dzuhur berkumandang. Sungguh ajaib memang bagaimana otak manusia bekerja karena meski sudah puluhan tahun berlalu, rasa manis itu masih bisa kurasakan hinggap di lidah seolah kukecap baru saja.

“Mbak nggak sendiri, kok. Banyak orang yang beli karena emang kangen sama rasa manisnya. Mungkin karena itu kami tetap jaga resep Siropen Leo sejak tahun 1948 sampai sekarang,” lanjut Daniel seolah memahami aku yang sedari tadi melamun menatap botol sirop ini.

“Botolnya bahkan masih sama sejak aku kecil dulu, dari kaca. Uni (kakak perempuan dalam bahasa Minang)-ku yang di Jambi pasti kalau dikirimin bakal seneng banget ini. Pecah nggak ya kalau dikirim lintas pulau gitu?” tanyaku polos.

Daniel menggeleng tenang sambil tersenyum. “Kalau untuk pengiriman luar kota, kami pakai botol plastik. Jadi aman selama di perjalanan sampai lintas pulau. Apalagi kalau pake jasa kirim yang sama legendarisnya,”

Aku bingung sejenak dengan ucapannya.

Daniel lalu berjalan meninggalkanku dan mendekati beberapa karyawan yang tengah memasukkan botol-botol Siropen Leo yang terbuat dari plastik itu ke dalam kardus-kardus cokelat. Meskipun dikemas manual, seluruh prosesnya terjadi dengan profesional, rapi, serta tentunya cekatan.

Lalu kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah yang juga jadi lokasi produksi Siropen Leo ini. Sebuah blind van yang kurasa jadi jawaban dari ucapan Daniel sebelumnya. Aku bisa melihat pada bagian depan mobil berwarna putih itu ada logo perusahaan logistik yang sangat kukenal dan lazim kupakai. Hanya tiga alfabet dengan warna biru yang tertera, tiga karakter tegas yang kubaca jelas: JNE.

Dalam hati aku bergumam, “Jadi ini maksud dia layanan yang legendaris…”

Aku bisa membayangkan bagaimana botol-botol Siropen Leo ini berangkat dari Kota Malang dan berjalan melintasi jalanan pulau Jawa lalu saling menyeberang entah ke Sumatera, Bali bahkan luar negeri lewat truk-truk ekspedisi. Kurir jelas menjalankan tugasnya bukan cuma sekadar mengantarkan sirup yang manis, tapi juga sebuah kenangan masa kecil seolah menelusuri lorong waktu. Tentu itu semua hanya akan menjadi angan saja jika Daniel masih menjual minuman kakek buyutnya itu cuma dari pabriknya saja.

“Dari kakek buyut Tjan Ing Tjhan sampai saya di generasi keempat ini, kami masih mempertahankan resep kuno dan pakai gula pasir tebu asli tanpa pemanis buatan. Memang ada inovasi kayak botol plastik buat kirim-kirim antar kota. Sekarang juga udah mulai jualan online lewat media sosial dan pakai marketing digital gitu,” papar Daniel.

Aku mendengarkan penjelasannya sambil mengamati area produksi Siropen Leo yang berada di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini. Karyawannya memang tidak mencapai ratusan orang, tapi terlihat betul semua bekerja dengan sangat cekatan.

Ada yang mengaduk-aduk kuali dengan cairan menggelegak di dalamnya, ada juga yang mengisi cairan-cairan sirup itu dari wadah besar ke dalam botol-botol sampai ada juga yang menempelkan label-label khas wajah seekor singa itu. Tangan-tangan para pekerja itu tampak begitu bersih dengan pakaian rapi dan penutup kepala plastik, menandakan kalau higienitas adalah hal yang mereka terapkan. Hampir seluruh tahapannya memang terjadi secara tradisional, kecuali pemasangan tutup botol yang ditekan oleh mesin demi menjaga sterilitas sampai ke tangan konsumen.

"Kuali yang kami pakai ini sudah digunakan sejak pertama kali sirup dibikin, ya tahun 1948 itu. Karena kualinya tebal, memang harus ditunggu panas baru bisa digunakan. Kalau keseluruhan proses pembuatannya sampai dikemas, ya sekitar 24 jam gitu," lanjut Daniel lancar.

produk Siropen Leo

Tidak cuma mengenang kembali rasa manis favoritku semasa kecil, berada di pabrik sirup ini seolah juga menarikku ke masa lampau. Kendati rumah ini baru digunakan sejak tahun 1980 karena sebelumnya tempat produksinya di sekitar Jalan Zaenal Zakse, jejak-jejak sejarah Siropen Leo terasa betul di setiap sudutnya.

Apalagi ketika Daniel bercerita bagaimana varian rasa dari rose, leci dan cocopandan kini sudah terus berkembang menjadi belasan macam yakni blewah, anggur, melon, frambozen, leci hijau, coffee mocca, leci putih, stroberi, sampai lemon squash. Produk ini bukan sekadar sirup, ini adalah saksi bisu roda sejarah negeri ini berputar.

Aku bisa membayangkan bagaimana meja-meja makan di banyak keluarga Kota Malang ini meletakkan botol-botol kaca sirup populer ini sambil menonton berita hasil pemilu demokratis pertama digelar tahun 1955, mengikuti ketegangan krisis moneter yang melumat Indonesia di tahun 1998, sampai menyaksikan momen-momen Idul Fitri di milenium baru tahun 2000 silam.

Dan kini ketika zaman sudah berkembang dan berbagai sirup manis yang lebih modern membanjiri pasaran, akan tetap selalu ada alasan untuk mengenang Siropen Leo. Sama seperti uni-ku yang ada di Jambi, mungkin banyak manusia-manusia milenial lain yang kini baru saja melakukan check out sirup rasa leci di keranjang belanjaan e-commerce mereka, atau tengah menanti sebotol sirup frambozen yang tengah diantarkan kurir JNE ke pintu rumah mereka.

Takdir dan kebetulan sebetulnya bisa diupayakan oleh manusia.

Seperti potongan adegan dalam film THE CURIOUS CASE OF BENJAMIN BUTTON (2008), bagaimana keputusan kecil yang dibuat oleh seseorang bisa mempengaruhi lingkungan yang lebih luas, mungkin ending akan berubah drastis andai Daniel tidak memilih skenario menjual sirup-sirup itu secara online, atau layanan distribusi barang tidak eksis di negeri ini. Bukan tak mungkin berbagai produk lokal legendaris di pelosok negeri ini akan punah dan cuma menyisakan cerita-cerita usang sampai menguap tak tersisa, saat mereka yang tua telah mencapai ujung usianya.

Inilah bukti bagaimana layanan logistik seperti JNE, memang bukan cuma sekadar barang. Tapi mereka mengantarkan cerita. Dalam setiap paket yang berpindah dari tangan ke tangan, kebahagiaan itu selalu terhubung. Gerakan yang menggelinding bersama ini menyatukan berbagai cerita kerinduan. Karena kadang kenangan bisa terasa bukan cuma lewat foto atau video, tapi rasa manis sirup yang menembus kilometer batas yang kini tidak lagi mustahil.

Kunyalakan kembali sepeda motorku sambil menggantungkan plastik hitam yang di dalamnya terdapat dua botol Siropen Leo rasa leci dan cocopandan itu. Kendaraanku melaju menjauhi tempat produksi itu, tapi senyumku terus berkembang karena aku siap mencicipi kembali nostalgia masa mudaku.

Dan akhirnya, kesimpulan kecil memenuhi kepalaku. Bagaimana layanan distribusi yang tepat mungkin pada dasarnya berperan memindahkan ingatan. Mungkin benar manusia tidak pernah bisa kembali ke masa kecilnya. Namun selama masih ada rasa yang dijaga turun-temurun dan ada tangan-tangan yang mengantarkannya melintasi kota dan pulau, kerinduan akan selalu menemukan alamatnya sendiri.

#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita

Author

Arai Amelya

I'm a driver, never passenger in life