“Sebagai salah satu predator teratas, hiu itu berburu ikan-ikan lain seperti kakap, kerapu, kakatua dan ikan-ikan yang lebih kecil pengonsumsi lamun, tumbuhan-tumbuhan yang hidup di laut. Bayangkan kalau hiu banyak diburu oleh manusia dan punah, maka populasi ikan-ikan pemakan lamun ini jadi tak terkendali,”
“Jika dibiarkan terus, ikan-ikan herbivora ini bisa saja merusak padang-padang lamun. Padahal padang lamun itu adalah paru-paru laut yang menyerap karbon dan ikut menahan pemanasan global. Karena itu dengan melindungi hiu, kita ikut menyelamatkan Bumi,” jelas Oka Bayu Pratama, penerima SATU Indonesia Awards 2025 bidang Teknologi.

***
Pemuda itu terus berjalan di antara kesibukan orang-orang yang saling hilir mudik di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Dari balik kacamatanya, pandangannya menggeliat tajam saat ada bangkai-bangkai hiu yang digelontorkan menumpuk di depannya oleh para nelayan ke lantai.
Tak peduli dengan aroma amis dan lendir khas dari ikan segar, dia berjongkok sambil memegang hiu-hiu tak bernyawa itu. Sesekali dibantu rekannya, dia mengambil bagian kecil dari bangkai hiu entah kulit atau dagingnya untuk menjadi sample yang disimpan aman di kotak penyimpanan. Selesai dengan urusannya, pemuda itu berpindah dengan sigap seolah tempat itu sudah menjadi ‘taman bermainnya’ sejak lama.
Sepatu boots yang dia kenakan berbunyi saat beradu dengan genangan air di lantai yang muncul dari mencairnya bongkahan es batu, ketika ikan dikeluarkan dari kotak-kotak muatan perahu nelayan. Sesekali dia tersenyum dan menyapa para nelayan atau pedagang ikan yang ada di dekatnya dengan ramah.
Pemuda itu terus berjalan di antara kesibukan orang-orang yang saling hilir mudik di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Dari balik kacamatanya, pandangannya menggeliat tajam saat ada bangkai-bangkai hiu yang digelontorkan menumpuk di depannya oleh para nelayan ke lantai.
Tak peduli dengan aroma amis dan lendir khas dari ikan segar, dia berjongkok sambil memegang hiu-hiu tak bernyawa itu. Sesekali dibantu rekannya, dia mengambil bagian kecil dari bangkai hiu entah kulit atau dagingnya untuk menjadi sample yang disimpan aman di kotak penyimpanan. Selesai dengan urusannya, pemuda itu berpindah dengan sigap seolah tempat itu sudah menjadi ‘taman bermainnya’ sejak lama.
Sepatu boots yang dia kenakan berbunyi saat beradu dengan genangan air di lantai yang muncul dari mencairnya bongkahan es batu, ketika ikan dikeluarkan dari kotak-kotak muatan perahu nelayan. Sesekali dia tersenyum dan menyapa para nelayan atau pedagang ikan yang ada di dekatnya dengan ramah.
Meskipun orang-orang tersebut mungkin seumuran dengan orangtuanya, dia tidak terlihat canggung dan tetap menjaga santunnya. Hingga akhirnya langkahnya terhenti saat melihat bangkai-bangkai hiu martil yang ditumpuk begitu saja.
Berbeda dengan sebelumnya, ekspresi wajah Oka Bayu Pratama kini tampak kecewa.
Pemuda yang pada 26 Oktober kemarin baru genap berusia 24 tahun itu memang tak banyak bicara. Tapi jelas wajahnya menampilkan gurat kesedihan. Di hadapannya, hiu-hiu martil itu sudah tak bergerak sekalipun darah belum kering dari mulut-mulut mereka. Sebuah akhir yang tak dia harapkan dari sang predator lautan.
Berbeda dengan sebelumnya, ekspresi wajah Oka Bayu Pratama kini tampak kecewa.
Pemuda yang pada 26 Oktober kemarin baru genap berusia 24 tahun itu memang tak banyak bicara. Tapi jelas wajahnya menampilkan gurat kesedihan. Di hadapannya, hiu-hiu martil itu sudah tak bergerak sekalipun darah belum kering dari mulut-mulut mereka. Sebuah akhir yang tak dia harapkan dari sang predator lautan.
![]() |
| Oka Bayu Pratama mengamati bangkai hiu di pelabuhan | foto: Instagram resmi SeeShark |
Lahir dan besar di Banyuwangi, Oka memang sudah terbiasa dengan kawasan pesisir. Lautan adalah keseharian yang selalu dia amati sepanjang usianya, membuatnya memiliki ketertarikan pada makhluk hidup yang bersemayam di dalamnya.
Di saat para pemuda seusianya berpikir pantai dengan lautnya hanya tempat indah untuk melepas lelah sambil mengamati matahari terbenam, Oka punya kisah lain.
Dia mendengarkan laut bercerita soal hewan-hewan dan tumbuhan yang harus bertahan hidup melawan ulah-ulah manusia. Mungkin tak bisa disalahkan karena kodratnya makhluk bernyawa mencari kehidupan. Hanya saja ekosistem laut yang terus terancam membuat Oka tak bisa cuma berdiam.
Apalagi di Indonesia, hiu martil termasuk spesies hiu yang perdagangannya terlalu terus terang. Semakin miris karena para pemburu hiu di perairan Nusantara ini bukan cuma nelayan-nelayan lokal dengan kapal kayu kecil mereka saja, tapi juga para pengusaha dan pedagang bermodal besar yang tentu siap memburu sang predator dengan lebih buas.
Dari pemikiran itulah, Oka si pemuda pesisir ‘melahirkan’ SeeShark.
Dari pemikiran itulah, Oka si pemuda pesisir ‘melahirkan’ SeeShark.
SeeShark, Privilege yang Mengubah Peradaban Laut
“Lautan Indonesia itu rumah dari 114 spesies hiu dari total 500 spesies hiu di seluruh dunia. Tapi yang bikin ironis, negara kita itu salah satu pemburu hiu terbesar di dunia. Banyak spesies hiu di Indonesia yang kini mendekati punah, seperti hiu martil bergerigi,” ungkap Oka.
Oka memang tidak sekadar berdongeng.
Pemuda ini bukan hanya terbiasa dengan lautan, tapi dia mengejar ilmunya hingga akhirnya memilih berkuliah di jurusan Budidaya Perairan (Akuakultur), Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam di Universitas Airlangga. Bagi Oka, cerita soal laut bukan hanya bicara tentang keindahan tapi juga data serta fakta yang mengancam potensinya.
Oka memang tidak sekadar berdongeng.
Pemuda ini bukan hanya terbiasa dengan lautan, tapi dia mengejar ilmunya hingga akhirnya memilih berkuliah di jurusan Budidaya Perairan (Akuakultur), Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam di Universitas Airlangga. Bagi Oka, cerita soal laut bukan hanya bicara tentang keindahan tapi juga data serta fakta yang mengancam potensinya.
![]() |
| Bangkai-bangkai hiu di TPI Brondong, Lamongan | foto: Instagram resmi SeeShark |
Namun fakta ini membuat para nelayan sering menangkap hiu entah sengaja atau tidak, demi alasan ekonomi. Oka tak ingin menyalahkan para nelayan itu. Namun hati kecilnya memberontak saat membayangkan dampak perburuan hiu yang tak terkendali.
Bagi Oka, para nelayan dan pekerja pelabuhan sudah harus tahu aturan maksimal perburuan hiu yang aman untuk ekosistem laut. Termasuk hiu-hiu mana yang boleh diburu dalam jumlah tertentu, atau yang sama sekali tidak. Hanya saja para petugas yang bertanggung jawab dalam mengawasi perburuan hiu ini sering gagal dalam pengamatan di pelabuhan lantaran kondisi tak mendukung.
“Jadi hiu-hiu itu saat tiba di pelabuhan ikan, sudah dalam kondisi terpotong-potong yang cuma menyisakan kulit, sirip, atau potongan tubuh lainnya. Praktik finning atau pemotongan ini memang dilakukan nelayan demi menghemat ruang penyimpanan di kapal. Tapi kalau sudah begitu, petugas kan akhirnya sulit mencari data karena tak bisa membedakan spesies hiu yang ditangkap ini statusnya boleh diburu atau justru dilindungi total,” jelas Oka panjang lebar.
Krisis identifikasi spesies yang sistemik inilah yang akhirnya melemahkan seluruh kebijakan konservasi. Berbekal pendidikan IT (Informasi Teknologi) selama sekolah menengah sampai membuatnya menjadi praktisi teknologi AI dan web development serta kuliah di bidang Akuakultur, Oka membuat inovasi lewat aplikasi bernama SeeShark.
“SeeShark ini dibangun dengan basis data yang kuat. Ada lebih dari 9.600 data foto hiu dari sepuluh spesies hiu yang paling rentan. Tingkat akurasi teknologi ini mencapai 95,3 persen, sehingga dalam hitungan detik, yaa sebut saja tujuh detik usai sample bagian tubuh hiu difoto, akan langsung menunjukkan hasilnya. Kami memanfaatkan deep learning AI (Artificial Intellegence) untuk identifikasi,“ ungkap Oka bangga.
Oka memang layak bangga.
Karena SeeShark tak hanya memperlihatkan nama spesies hiunya saja. Aplikasi buatannya ini juga otomatis menampilkan status konservasi IUCN (Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam) dan CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah) dari hiu tersebut.
Dengan begitu, nelayan dan petugas yang menggunakan SeeShark di ponsel mereka nanti, akan lebih tahu jenis hiu yang tertangkap dan dijual. Harapannya, mereka bakal lebih menahan diri saat menangkap dan memperdagangkan hiu, sehingga habitat sang predator bakal lebih terkendali.
![]() |
| Hiu martil jadi korban penangkapan nelayan | foto: Instagram resmi SeeShark |
Kepekaannya yang sangat tajam itulah membuat Oka menjawab panggilan dari laut untuk melindungi salah satu ikan terbuas di samudera.
Oka pun sadar kalau langkahnya dalam mengumpulkan ribuan data soal hiu bukanlah sesuatu yang mudah dan murah. Memanfaatkan privilege-nya sebagai peternak lele, jalan SeeShark pun dimulai.
“Sejak awal sampai sekarang, SeeShark ini kan harus terus mengembangkan model AI dan mengumpulkan data valid supaya bisa akurat. Hal-hal itu jelas membutuhkan biaya operasional termasuk alat identifikasi hiu yang kami ciptakan secara mandiri. Karena itu biaya diambil dari keuntungan bisnis ternak lele yang saya jalankan. Jadi memang tidak ada sponsor, tidak ada dana hibah. Sampai akhirnya pada 2024, BRIN dan Konservasi Indonesia ikut terlibat membantu SeeShark,” pungkas Oka.
Aah, mau tak mau aku jadi teringat pada ucapan Sam Altman, salah satu jenius teknologi dunia di bidang AI yang kini menjadi pemimpin OpenAI, ‘otak’ di balik kecerdasan ChatGPT.
“Young people willing to push super hard to make something happen, are among the most powerful forces in the world,”
Ya, Oka dan tekadnya telah menjelma menjadi ‘senjata’ yang sangat kuat untuk menyelamatkan bumi.
Langkah Kecil yang Menggerakkan Dampak Lebih Besar
Keputusan Oka untuk terlibat aktif dalam menyelamatkan habitat hiu di Indonesia sebetulnya adalah sebuah gerakan kecil yang mampu ‘menggelindingkan’ dampak yang makin besar untuk lingkungan dan tentu saja manusia.Seperti yang sudah dijelaskan Oka sebelumnya, jika hiu sebagai predator teratas terus diburu dan akhirnya punah, maka jumlah ikan-ikan yang biasanya dimangsa bakal tidak terkendali perkembangannya. Termasuk di dalamnya adalah ikan dan hewan yang lebih kecil pemakan tumbuhan lamun seperti dugong, kura-kura hijau, sampai ikan baronang. Populasi ikan herbivora yang membludak jelas akan membuat mereka merusak lamun-lamun di lautan.
Dalam konteksnya dengan bumi, lamun memiliki posisi yang sangat penting.
Padang lamun mampu menyerap karbon dari udara supaya bumi tidak makin panas, sekaligus bagian ‘akar’ yang bisa mencegah ombak mengikis pasir pantai. Bahkan untuk urusan penyerapan karbon seperti CO2, padang lamun bisa melakukannya hingga 35 kali lebih cepat daripada hutan tropis di darat.
Hamparan tumbuhan ini adalah sang paru-paru samudera.
'Organ' milik Bumi yang berusaha dijaga 'detaknya' oleh Oka, lewat upaya perlindungan spesies hiu di lautan.
![]() |
| Ekosistem mangrove dan lamun di bagian utara Pulau Nias | foto: Eko Siswono Toyudho/Konservasi Indonesia. |
Inilah yang menjadikan aksi Oka dalam menyelamatkan hiu, berdampak tidak langsung untuk menjaga stok karbon biru Indonesia. Menariknya, Banyuwangi yang merupakan tanah kelahiran Oka, menjadi salah satu habitat padang lamun di Indonesia selain di wilayah pantai Lamongan, Pulau Bawean, Sumenep, Bangkalan, Situbondo, Malang, dan Pacitan.
Indonesia sendiri memang saat ini tengah menetapkan 17 habitat lamun sebagai kawasan strategi nasional untuk mengelola karbon biru. Menurut Kartika Listriana selaku Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, rencana zonasi untuk karbon biru in adalah komitmen Indonesia dalam menghadapi krisis iklim.
Tak main-main dari total padang lamun di bumi, Indonesia mempunyai 11,5% di antaranya, atau sekitar 800 ribu hektar. Di mana menurut KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), zona-zona pelindung karbon biru ini mampu menyimpan lebih dari 30 juta ton karbon dan mengunci lebih dari 6 juta ton CO2.
Sayangnya ekosistem padang lamun menurut IUCN, tengah mengalami penyusutan hingga mencapai 7% setiap tahunnya.
![]() |
| Tumbuhan lamun di pesisir pantai | foto: Eko Siswono Toyudho/Konservasi Indonesia. |
Senada dengan penjelasan Oka, dari 117 spesies hiu di perairan Indonesia, hanya hiu paus dan hiu berjalan yang berstatus dilindungi penuh dan tak boleh ditangkap sama sekali. Sedangkan ada empat spesies hiu lain seperti hiu koboi dan tiga spesies hiu martil yang boleh ditangkap tapi tak boleh diekspor.
Menjadi masalah karena perikanan hiu di Indonesia terbagi menjadi dua aktivitas utama yakni perikanan hiu sampingan atau tak sengaja dan perikanan hiu target. Salah satu contohnya adalah nelayan-nelayan di Desa Tanjung Luar dan Pulau Maringkik di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat merupakan kelompok perikanan hiu target.
Nelayan-nelayan lokal di wilayah itu menangkap hiu hingga cukup jauh sampai ke perairan sebelah selatan Kalimantan atau Selat Makassar, Teluk Bone, dan selatan Pulau Sumba yang mendekati wilayah perbatasan Australia.
Dengan fakta bahwa hiu butuh sekitar 30 tahun untuk jadi dewasa, maka pemulihan atas populasi hiu memang memakan waktu yang sangat lama. Belum lagi tingkat reproduksi hiu relatif rendah, perburuan hiu bakal mengancam rantai makanan seperti yang dikhawatirkan oleh Oka.
![]() |
| Pengumpulan sample hiu dan keramaian di pelabuhan ikan | foto: Instagram resmi SeeShark |
Jika saat ini fokus Oka untuk melindungi hiu di lapangan masih terbatas pada area hulu, ke depannya dia berharap bisa makin fokus pada hal-hal yang belum dilakukan oleh kelompok konservasi lainnya.
“Kami benar-benar ingin supaya hiu tidak diperdagangkan lagi ke depannya. Tentu ada proses tahapannya seperti perketat lagi jual-beli hiu di Indonesia, kalau bisa di bawah 2.000 ekor per tahun. Selain itu kami juga ingin mendorong kampanye shark free pada label-label kosmetik. Karena saat ini banyak industri kosmetik memakai squalene, kandungan dalam minyak hati hiu sebagai bahan baku pelembab serta gelatin yang diekstrasi dari kulit dan tulang hiu,” tambah Oka.
Cerita dari Oka yang Telah Didengar Astra
Kini perjalanan Oka bersama SeeShark sudah mencapai tahun ketiga.Selayaknya ombak yang bergulung makin besar, Oka tak menampik kalau inovasinya ini sempat mendapat sambutan yang dingin dari kalangan nelayan lokal.
"Mereka berpikir awalnya kalau kehadiran SeeShark ini bakal memutus sumber penghasilan, karena tidak boleh berburu hiu sama sekali. Bahkan di beberapa pelabuhan, kami ditolak. Untungnya setelah dijelaskan kalau kehadiran kami ini melibatkan nelayan lokal, upaya kami diterima dengan baik," kenang Oka.
Tanpa dia sadari, Oka telah benar-benar mengusung harapan satukan gerak terus berdampak yang tak pernah padam. Bahkan ke depannya, dia dan rekan-rekan di Garda Lestari bakal menjalankan penawaran dari KKP untuk mempersiapkan dan mengimplementasikan tools SeeShark di beberapa pelabuhan nasional di Indonesia.
Termasuk mulai Januari 2026, Garda Lestari akan menerapkan hibah dari TFCCA untuk konservasi terumbu karang.
“Kami juga tengah membicarakan kerjasama dengan aktris Raline Shah, karena dia menyatakan minatnya untuk bergabung dalam kampanye perlindungan hiu. Terutama dengan terus meningkatnya permintaan squalene di industri kosmetik lokal,” lanjut Oka senang.
![]() |
| Oka Bayu Pratama dan penerima SIA 2025 lain | foto: Lombok Post |
Di mana pada tahun 2025 ini, Oka terpilih sebagai penerima SATU Indonesia Awards (SIA) di kategori Teknologi. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia rencanakan.
“Saya sama sekali tidak menduga bakal memperoleh SIA karena kan di tahun 2025 ini, ada lebih dari 17 ribu orang pesaingnya. Sebetulnya sudah pernah di-follow up ASTRA sejak beberapa tahun sebelumnya tapi saya tidak percaya diri, dan baru tahun ini diusulkan oleh teman-teman. Sedikit ragu juga karena saat penilaian makin mengerucut, ada finalis-finalis lain yang di sudah berulang kali ikut,” kenang Oka.
Namun Oka Bayu Pratama membuktikan kalau dia adalah sang nakhkoda sejati.
Kapalnya kini telah dibangun makin besar. Diikuti oleh para anak buah yang ikut di belakangnya menyelusuri samudera-samudera tak terpetakan. Layarnya terkembang dengan sangat kuat, mengibarkan semangatnya yang menolak dipadamkan.
Tujuannya satu, menyelamatkan hiu untuk memperpanjang nafas bumi.
Inilah cerita Oka Bayu Pratama.
Referensi
“Saya sama sekali tidak menduga bakal memperoleh SIA karena kan di tahun 2025 ini, ada lebih dari 17 ribu orang pesaingnya. Sebetulnya sudah pernah di-follow up ASTRA sejak beberapa tahun sebelumnya tapi saya tidak percaya diri, dan baru tahun ini diusulkan oleh teman-teman. Sedikit ragu juga karena saat penilaian makin mengerucut, ada finalis-finalis lain yang di sudah berulang kali ikut,” kenang Oka.
Namun Oka Bayu Pratama membuktikan kalau dia adalah sang nakhkoda sejati.
Kapalnya kini telah dibangun makin besar. Diikuti oleh para anak buah yang ikut di belakangnya menyelusuri samudera-samudera tak terpetakan. Layarnya terkembang dengan sangat kuat, mengibarkan semangatnya yang menolak dipadamkan.
Tujuannya satu, menyelamatkan hiu untuk memperpanjang nafas bumi.
Inilah cerita Oka Bayu Pratama.
Referensi
- Wawancara langsung via telepon dengan Oka Bayu Pratama
- Instagram Oka Bayu Pratama
- Instagram SeeShark
- Yohanes Paskalis, Tempo.co. 2025. Aplikasi Buatan Pemuda Banyuwangi ini Bisa Kenali Hiu dari Kulit
- Basten Gokkon, Mongabay. 2025. Indonesia Targetkan 17 Kawasan Lamun untuk Karbon Biru
- Irfan Yulianto, The Conversation, 2019. Pentingnya Pengaturan Perikanan Hiu di Indonesia, Ini Saran Akademisi









0 Comments